English version ---
Part 1
Claudy make a sweetest smile ever this morning. She began to apply blush-on around her cheeks, then slowly put on lip gloss. Claudy smile again, but now with her dimples, she's so perfect. After she combed her hair, she left the room that is coated with a wallpaper of stars and blue knacks, it's an amazing room. She descended the stairs slowly, like a princess. Arriving at the last step, Claudy immediately walked with graceful to the dining room. Her hair waving in the breeze. Clariss shouts calling her older sister, "Claudy!" Clariss is Claudy's little sister, although they often fight over small issues, but the bond will always be there. Actually there are three people, but their brother, Clarence has been occupying the third semester in college and already a few months moving to Australia for study. "Claudy, I know you're already there, come on! Hurry, I'll be late!" Clariss screamed shrilly. "Yeah, chatty! Just wait for a moment!" said Claudy in hurry. Actually, I'm the main character in this story. I'm the ash among the most wanted, yes, I'm Clariss Dirga Widjaya the normal course, not popular, simple. I have been so patience with my older sister who labeled the most wanted it, they both are equally complicated. "How can I be patience like that? Do you know where we gonna go? We just wanna go to school! Is the make-up really important? If we late, I hope that you have a reason for it!" Clariss really mad at her older sister. "Aren't you proud of me?" said Claudy narcissistic. Clariss not answered. It's better I don't answer! said Clariss in heart. The breakfast ended with a cold situation, Clariss's father could only babble to himself saw his two daughters, and mother could only smile, while Clariss and Claudy left the breakfast with faces like a rotten. Clariss Dirga Widjaja Widjaya and Claudy Laurence Widjaya boarded a private car with their driver, they look so annoyed. Amid travel, Claudy phone ringing that mark there's incoming message. After fiddling with her phone and read the message, suddenly Claudy smile without wind or rain. What happen with her? Just read the message then smile is so happy, what possessed? Inner Clariss said. "Why you suddenly grinning? Is that from Virgo, your fucking boyfriend? Or from the basketball team Dirga, Or there's a new, huh?" said Clariss curiously. "Dirga, I've kicked him from my side!" Claudy is a real player. "Uh, just relaxed, bitch!" said Clariss cold. Finally, the last sentence Clariss end of their conversation in the car. At Rozens School, the school both of them, Claudy out of the car with elegant style until the time seemed to stop.
to be continued...
Indonesian version ---
Part 1
Claudy memancarkan senyuman termanisnya didepan kaca hingga lesung pipitnya terlihat dan menambahkan derajat manisnya. Ia mulai mengoleskan blush-on disekitar pipinya yang halus dan lembut, lalu memakaikan lip-gloss perlahan. Claudy kembali mengembangkan lesung pipitnya didepan kaca. Sambil menyibakkan rambutnya, Ia meninggalkan ruangan yang dilapisi dengan wallpaper bintang-bintang dan berpernak-pernik serba biru, yang ukurannya seluas kamar utama sebuah rumah. Ia menuruni anak-anak tangga dengan perlahan bak seorang putri. Sesampainya di anak tangga terakhir, Claudy segera berjalan dengan anggunnya menuju ruang makan. Claudy menyibakkan rambutnya yang berkibar terkena angin sepoi-sepoi. Semasih Claudy menebarkan pesonanya, suara teriakan cempreng Clariss terdengar memanggilnya, “Claudy!” teriakan Clariss langsung menghentikan tiara-tiara yang berkilauan saat Claudy sedang menebarkan pesonanya. Clariss adik dari Claudy, walaupun mereka sering bertengkar karena masalah kecil, namun ikatan batin akan selalu ada. Sebenarnya mereka adalah tiga bersaudara, Kakak Claudy, Clarence sudah menempati bangku kuliah semester tiga dan sudah beberapa bulan terakhir pindah ke Ausie demi menuntut ilmu. “Claudy! Gw tau lu udah turun! Buruan, ah! Nanti telat!” jerit Clariss cempreng. “Iya, sih! Sabar aja!” timpal Claudy. Sebenarnya, tokoh utama dalam cerita ini aku! Aku si upik abu diantara saudara-saudaraku yang the most wanted, ya, aku si Clariss Dirga Widjaya yang biasa saja, tidak popular, simple, gak jelas, dan lain-lain. Aku selama ini bersabar menghadapi tingkah-tingkah dua saudaraku yang dicap the most wanted itu, mereka berdua sama-sama ribet. “Sabar, sabar, sabar gimana?! Lu lama tau! Mau sekolah aja pake make-up segala! Kaya penting banget aja!” Clariss benar-benar menyembur habis saudaranya itu. “Ih! Emang lu gak bangga punya saudara the most wanted kaya gw gini?” balas Claudy sok narsis. Clariss tidak menjawab. Memang lebih baik aku gak jawab, cape! Batin Clariss tabah. Sarapan diakhiri dengan dingin, Papa Clariss hanya bisa mengoceh sendiri melihat kedua anak perempuannya, dan Mamanya hanya bisa tersenyum tipis, sedangkan Clariss dan Claudy meninggalkan acara sarapan dengan tampang beluek mirip duren busuk jatoh baru dibelah. Clariss Dirga Widjaya dan Claudy Laurence Widjaya menaiki mobil bersama supir pribadi dengan tampang suntuk abis. Ditengah perjalanan, handphone Claudy berdering tertanda ada sms masuk. Setelah mengutak-atik hp-nya dan membaca pesan itu, Claudy langsung tersenyum tanpa angin dan tanpa hujan. Nih anak kenapa? Cuma baca sms aja senyum mengembang begitu, kerasukan apa? Batin Clariss berkata. “Kenapa lu? Tiba-tiba cengar-cengir begitu? Sms dari Virgo, pacar beluek lu itu? Atau dari Dirga si anak basket gak penting itu? Atau… Ada yang baru, yah?” celetuk Clariss ingin tahu. “Ih, sotoy! Dirga mah udah gw tendang jauh-jauh! Sorry, deh, ya!” samber Claudy nyolot. “Eh, ya udah, santai aja kali!” jawab Clariss dingin. Akhirnya kalimat terakhir Clariss mengakhiri pembicaraan mereka di mobil itu. Sesampainnya di Rozens School, sekolah mereka berdua, sang putri Claudy turun dari mobil dengan anggunnya sampai waktu serasa berhenti.
bersambung..
N.B: wait for the next series!