Sunday, January 23, 2011

180 Derajat -- 180 Degree

 Lanjutan Part 1

Clariss dengan kasarnya membanting pintu mobil sampai waktu jadi kembali seperti semula. Jika membandingkan Clariss dan Claudy sungguh terlihat berbeda, Claudy yang anggun, manis, perhatian dan berwibawa, sedangkan Clariss yang simple, terlihat cuek, nyolot, gak pinter pula, semua orang pasti memandang rendah Clariss. Clariss segera kabur tanpa pamit atau berbasa-basi-ria dengan Claudy yang menjadi korban amuk Clariss. Clariss segera memasuki kelas X1 tanpa basa-basi. Tampang garangnya langsung terlihat jelas didepan cowok-cowok yang lagi nongkrong dekat pintu kelas. “Cielah! Princess of Darkness udah dateng, nih!” goda Rekka si cowok jayus sekelas X1. Akibat Rekka menggoda Clariss, Rekka jadi salah satu korba amuk Clariss, Rekka mendapatkan penghargaan besar karena telah diberikan pandangan setan oleh Clariss. Clariss langsung melengos melihat Rekka yang terlihat sangat tertohok, kalau ini didalam komik, mungkin Rekka sudah mengeluarkan gambar keringat segede gajah beleduk sekarang. Tidak dapat dibayangkan, diberikan pandangan mata setan oleh sang Princess of Darkness, dipagi yang secerah itu. Clariss segera mengambil tempat duduknya dengan kasar, dan melempar tasnya dibangku, Tristan yang duduk disebelahnya sambil berkantuk-ria langsung melonjak kaget. Clariss melihat Tristan yang sedang terkantuk-kantuk melonjak karena ia membanting tas langsung menjulurkan lidah sambil meminta maaf. Tristan yang kaget hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan kembali mimpi indahnya yang mungkin saja sedang bertemu dengan salah satu anggota teletubies. Ketemu teletubies kali si Tristan, ya? Aduh! Sorry, ya, Tristan my sweety, gw ganggu mimpi indah lu deh! Ahahahaha… batin Clariss tertawa membayangkan Tristan yang keren-keren begitu tapi masih mimpi tentang teletubies idola anak TK, mengikik ‘lah dia. Clariss keluar dari kelas dan menghampiri kelas X2, kelas Karyn. Karyn adalah teman terdekat bagi Clariss, karena Karyn selalu memaklumi kebiasaan buruk Clariss, bahkan Karyn selalu meredakan emosi Clariss jika dia diejek Princess of Darkness. “Karyn! Karyn!” teriak Clariss didalam kelas X2. Karyn yang sedang nyaman-nyamannya menyalin tugas dari buku salah satu temannya langsung berdiri dan menengok sebentar pada Clariss lalu kembali menyalin tugas. “Ih, Karyn! Kok kacang mahal sih?! Sebel, ah!” ucap Clariss sambil merajuk. Karyn masih tetap tidak bereaksi, Clariss segera meninggalkan kelas X2 tanpa basa-basi. Clariss benar-benar emosi, baru saja hari pertama masuk sekolah diminggu ketiga bulan Februari, ia sudah mendapat mood yang tidak enak, padahal kemarin baru saja valentine’s day. “Brukk!” suara itu terdengar sangat keras, Clariss terpental setelah menabrak seseorang yang belum diketahui siapa. “Aduh… Sakit tau! Jalan liat-liat, kek!” omel Clariss penuh amarah. “Elu yang liat-liat! Elu juga yang nabrak! Lu gak cukup punya dua mata? Beli sono kacamata kuda! Biar jelas! Masa badan segede gini gak keliatan?!” omel orang yang ditabrak Clariss tidak mau kalah. “Elu tuh! Elu aja yang beli kacamata kuda! Mata gw sehat wal-afiat kok! Mata lu aja tuh, lonjong!” balas Clariss tetap tidak mau kalah. Mereka berdua bangun sambil memegangi pantat masing-masing yang terasa seperti digebuk pake gedebong pisang. Setelah cukup meringis, Clariss menengok siapa yang berani-berani menabrak Clariss yang bergelar Princess of Darkness itu. Dilihat dari bawah, orang yang menabrak Clariss pasti laki-laki, karena dia mengenakan seragam sekolah dengan celana berwarna hijau lembut. Miki, Miki Arstan Putra, Clariss masih mengingat nama Miki dengan baik, Miki adalah teman SD sampai SMP Clariss dulu, yang saat SMP kelas dua pindah ke Sydney. Clariss nyaris tidak percaya bisa bertemu dengan Miki lagi di SMA ini, “Lo itu Miki?” Tanya Clariss memastikan. “Apa urusan lo? Nama gue emang Miki, anak baru disini. Jangan lo kira mentang-mentang gue anak baru, lo bias nindas gue sesuka hati lo, ya.” omel Miki tetap berlanjut. “Oh. Jadi ini dia Miki yang disebut-sebut sama satu sekolah, pindahan dari Sydney. Ternyata tinggal diluar negeri gak menjamin kelakuan, ya. Dari Sydney bukannya bawa ilmu cuma bawa tampang!” Clariss menanggapi dengan dingin sambil terpaku menatap mata Miki yang ber-softlens hijau cerah dengan nyali yang ciut. “Eh, jaga mulut lo baik-baik selama lo masih bisa ngomong, sebelum mulut lo gue ceburin dalam kamus contoh orang gak sopan dan gak tau diri. Tau apa lo tentang gue, sampai bisa menghina gue sedalem itu? Lu bukan siapa-siapa. Hanya seonggok sampah dimata gue.” ucap Miki geram. “Gue gak butuh lo pandang tinggi.” Clariss benar-benar menanggapi dengan dingin, entah memang cuek atau pura-pura cuek dengan Miki. “Heh! Lu tuh, ya… Sotoy banget lu?” Miki makin geram, sedangkan Clariss tetap tidak berkutik. Clariss hanya memperhatikan Miki dari ujung rambut teratas sampai ujung kaki terkecil dengan tatapan sinis pangkat lima. Melihat Clariss yang memperhatikan Miki dengan tatapan sinis pangkat lima, Miki juga memperhatikan Clariss dengan tatapan yang tidak kalah sinis. Miki membutuhkan kira-kira dua menit memperhatikan Clariss hingga mengingat bahwa Clariss adalah teman dari kecilnya dulu. “Lu tuh sebenernya siapa? Kayaknya gue pernah liat wajah lo.” “Ah! Gue inget, lo Clariss, ya?” Tanya Miki dengan nada gusar. Clariss masih tidak menjawab, seolah sedang mencerna pertanyaan tersulit yang perlu dipikirkan selama satu jam. “Lu Clariss, anak X1 yang dijuluki Putri Setan, ya ‘kan?” ujar Miki lagi tanpa ragu. Mendengar kata-kata “Putri Setan” Clariss yang tadinya hanya diam jadi meledak. “Apa?! Berani banget lu, yeh! Gak kenal gue tapi sembarangan ngatain orang! Go to hell lo sana!” “Clariss yang sekarang galak banget, udah gitu omongannya menohok banget.” ucap Miki tersenyum jahil. Clariss emosi tingkat tinggi, sedangka Miki yang melihat perubahan muka Clariss langsung tertawa kecil. “Lo itu bener-bener CDW? Rasanya bener-bener beda. Auranya, aura dingin.” Miki berbisik. “Ya, itu urusan gue. Seberubah apapun gue, gak ada hubungan sama lo.” Lalu dengan sketsa sok pahlawan, Karyn yang sudah selesai menyalin tugas langsung menghampiri Clariss dan Miki yang sedari tadi diperhatikan anak-anak satu kelas. “Weits, ada apaan nih?” tidak ada yang merespon pertanyaan Karyn, Karyn jadi bingung sendiri melihat tingkah kedua temannya itu. Clariss yang mengeluarkan keringat dingin segede gaban dan Miki yang mengalihkan pandangan sambil memegang tas selempang Ocean Planet-nya dan bikin-bikin gaya cool yang membuat anak-anak cewek satu sekelas kelepek-kelepek perhatiinnya. Jadi ini MAP, gue gak percaya perubahan drastic, dari dulu gue akui memang dia cakep. Namun rasanya sekarang ada yang beda, ada yang ditutupin, terutama dari gue, batin Clariss memperhatikan Miki. “Oh iya, Clariss kenalin, ini anak baru di kelas gw, namanya Miki. Kalo gak salah nama panjangnya Miki Arstand Putra. Dia baru pindah sekitar beberapa minggu yang lalu. Dia ini most wanted loh, sekaligus pacarnya Marcha yang cantik itu loh.” Ujar Karyn meramaikan suasana. Dengan mendukung, Miki menjulurkan tangan, Clariss tetap tidak berkutik, berjabat tangan saja tidak mau. “Miki.” Ucap Miki pelan. Sepertinya Karyn tidak mendengar perdebatan Miki dan Clariss tadi. Karyn masih kebingungan melihat temannya itu. Karyn  menyenggol Clariss agar mau berjabat tangan dengan Miki, tapi Clariss hanya menatap rendah Miki dan dengan gerakan cepat meninggalkan kelas X2.


bersambung...
N.B : I'm sorry readers, there's no english version for now... I really sorry. :)

I Can!

Kay, would you like to dance with me?” ucap Sora lembut. “Yes. I would!” jawab Kay mantap. Musik mengalun indah mengiringi mereka berdua. Terputar lagu Sanctuary by Utada Hikaru. “Gubrak!” suara kencang seperti duren rontok itu sangat mengganggu mimpi indah Kaysha Jessica Aresthea. “Aduh!” jerit Kaysha mengaduh. Kaysha mengangkat kepalanya dan melihat sesosok laki-laki bertubuh tinggi, masih muda, memakai seragam sekolah SMA rapih, rambut spike yang acak-acakan, dan mata yang tajam dan nakal. “Heh! Ngapain kamu disini! Enak aja masuk ke kamar orang sembarangan! Ketok dulu dong!” bentak Kaysha tak tahan melihat Lukas yang masuk kedalam kamarnya seenak jidat. Dalam posisi masih terselungkup diantara selimut yang menibannya, Kay mencoba meraba-raba handphone-nya. Dia terkejut setengah mati saat melihat jam menunjukan pukul enam pagi. “Aduh, bodoh! Kenapa kamu baru bangunin aku jam segini! Kita ‘kan bisa telat!” omel Kay pada Lukas. “Salah sendiri! Aku ‘kan dari tadi udah siap-siap. Udah berkali-kali aku ketok pintu masih aja gak dibukain, ya udah, aku masuk aja! Paling-paling, kalo sampai telat, aku akan salahin kamu!” jawab Lukas menjablak. “Udah, ah! Aku mau mandi, keluar sana!” ujar Kaysha geram. Kaysha Jessica Aresthea adalah anak pengusaha terkenal, papa-nya pemegang saham perusahaan Phantom yang memproduksi segala macam games (Playstation, Nintendo DS, Gameboy, dan lain-lain), dan juga merangkap sebagai perusahaan adverstiment. Tidak ada yang tidak mengenal perusahaan Phantom yang sukses mencapai rating ke-9 dalam perusahaan-perusahaan di Jakarta. Lukas Marcel Naristan, alias Lukas, adalah anak dari teman mama-nya Kaysha. Lukas adalah sahabat Kay sejak kecil, Kaysha sudah terbiasa bila Lukas masuk ke kamarnya yang indah penuh dengan poster-poster anime, manga, komik dan games playstation bertebaran yang membuat kamarnya terlihat sangat rapih seperti habis tsunami. Lukas tinggal bersama Kaysha karena orang tua Lukas sangat sibuk dan sering berpergian keluar negeri. Lukas kesepian selalu sendiri di rumah karena orang tuanya jarang sekali pulang, Lukas hanya tinggal bersama dengan pengurus-pengurus rumah yang baik hati. Lukas pernah frustasi dengan keadaan orang tuanya, yang tiba-tiba terdengar akan bercerai. Lukas hampir saja terjerumus dalam dunia narkotika yang dijalani beberapa temannya. Makanya orang tua Kaysha mengajak Lukas tinggal bersama dan menganggapnya anak sama seperti Kaysha. “Acel! Tungguin, dong!” ujar Kaysha. “Udah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Acel kalo lagi disekolah.” Ujar Lukas tegas. Kaysha merutuk dalam hati. Akhirnya Kaysha diam di samping pagar Penabur Ravern School, sekolahnya. Kaysha merapihkan bajunya sebelum dia melaksanakan 3S (Senyum, Sapa, Santun), karena guru-gurunya sering sekali memarahi anak-anak yang tidak memakai seragam dengan rapih. Setelah Kaysha mantap merapihkan bajunya, dia segera melewati petugas 3S dengan santai tanpa ada teriakan dari guru. Kaysha memang anak yang patuh, tidak banyak gaya pada guru, karena dia tidak mau sekali-sekali dihukum oleh guru seperti Acel yang selalu jadi pentolan di kelas. Kaysha itu anak yang cukup pintar, cukup dapat diteladani, ramah, dan lainnya, intinya Kaysha tidak sering melawan guru dan orang tua. Kaysha anak yang penurut, kalem, dan pengkhayal. “Kay! Ya ampun! Aku udah tungguin kamu sejak tadi!” Nariskha sudah berteriak memanggil-manggil Kaysha, padahal baru saja Kaysha sampai di kelas. “Kenapa toh ya kamu cari-cari aku sampe sebegitunya banget? Ada buto ijo kecebur sumur minta pertolongan?” Tanya Kaysha sembari tertawa kecil. “Aduh! Sekarang bukan saatnya kamu ketawa, Kay!” jawab Nariskha panik. “Ya, amplop, emangnya ada apaan sih, Kha?” Tanya Kaysha menebak-nebak apa yang terjadi. “Tapi kamu jangan kaget dulu, ya?” Kaysha menunggu Nariskha melanjutkan kalimatnya. “Jadi, gini, sebenernya tadi Bu Ririn, itu yang guru BK itu loh!” Kaysha bingung, “Ada salah apa aku?” Batin Kaysha. Kaysha sudah deg-degan aja pas dia sampai di depan ruang BK. “Ayo duduk, Kay.” Ucap Bu Riri ramah. “Makasih, Bu.” Kaysha duduk di kursi yang ditunjuk Bu Riri. “Jadi, maksud ibu manggil saya kesini ada apa, ya, Bu?” Tanya Kaysha deg-degan. “Jadi begini, ada lomba Sains yang akan diadakan kira-kira sekitar 4 bulan lagi, lebih tepatnya bulan Desember tanggal 26. Kamu ditunjuk sebagai salah satu wakil dari kelas XI. Ibu hanya ingin memberitahu kamu agar kamu siap-siap dalam lomba tersebut.” Kaysha mematung, dia dipilih sebagai salah satu wakil dari kelas XI, memang Kaysha sudah terbiasa mengikuti lomba-lomba seperti itu. Piala-piala dan penghargaan hampir tidak pernah ada yang dilewatkannya, sampai-sampai piala-piala dirumahnya dilempar ke gudang. “Baik, Bu.” Ujar Kaysha pelan. “Apa ada lagi yang perlu ibu bicarakan sama saya?” Tanya Kaysha. “Hmm, sepertinya hanya itu saja.” Tanya Bu Riri. “Kalau begitu, saya permisi, ya, Bu.” Kaysha undur diri dari hadapan Bu Riri dan pergi menuju kelas XI-A. “Gimana? Ada apa, Kay? Kamu bikin masalah apa? Dihukum gak?” Kaysha dihujani pertanyaan oleh Nariskha, sahabatnya. Masih untung dihujani pertanyaan daripada dihujani hujan local alias air liur. “Aduh, sabar-sabar, dong, nanyanya. Jangan kaya kebakaran jenggot gitu! Kamu ‘kan gak punya jenggot, jadi sabar aja.” ujar Kaysha tenang. “Jadi, tadi tuh aku disuruh ikut lomba lagi.” Kata Kaysha pasrah. “Itu bagus, dong! Kamu jadi makin terkenal dipenjuru sekolah kita!” ujar Nariskha napsu. “Aku gak butuh terkenal, Kha. Yang aku butuh cuma the meaning of my life, what am I living for? Bukan untuk terkenal.” Ujar Kaysha sambil menghembuskan napas. Nariskha membuntuti Kaysha penasaran persis tikus nyari keju, Kaysha masuk kedalam kelas dengan wajah sigung patah hati. “Kenapa kamu, Kay? Kok pasang muka kaya kesemek busuk baru jatoh?” Tanya Acel melirik Kaysha yang memasang wajah ganas panas mengenas persis daging burger baru mateng. Kaysha melirik Acel sinis, “Bawel!” sembur Kaysha. “Jih, aku tanya baik-baik, dijawab kasar.” balas Acel gak kalah sinis. Kaysha melihat Acel dengan penuh tanda tanya, “Apa sih yang dia mau?” batin Kaysha. “Urusan aku.” Balas Kaysha dengan nada menantang. “Hmm.” Acel memasang wajah nakal. “Argh! Dasar Marcha!” seru Kaysha. Acel langsung memalingkan wajahnya. Terlihat wajahnya yang nakal itu memerah. “Tuh kan! Skak mat! Adu bacot sih sama ratu bacot.” Ujar Kaysha dalam hati. “Acel! Eh, Lukas!” ralat Kaysha. “Kalo mau panggil Acel gak apa-apa kok.” Ujar Acel. “Gak mau, ah! Nanti Marcha kira kita ada apa-apa, terus dia gak mau sama kamu.” Sindir Kaysha. “Jessica Aresthea, denger ya! Gw gak suka ucapan lo! Karena gw emang gak suka sama Marcha!” ujar Acel geram. “Masa?” terdengar suara Kaysha sayup-sayup. “Iya! Masih belom puas gw bilangin? Gw gak suka sama Marcha! Gak sama sekali! Pokoknya kalo gw bilang gak suka, ya gak suka!” Acel mengambil napas, menenangkan diri. Kaysha melihat Acel seperti itu jadi merinding sendiri. “Gw itu suka sama lo! Bukan sama Marcha! Puas lo?!” Acel berteriak di lapangan parkir itu, hingga anak-anak yang melintas disekitar sana menjadikan aksi Acel sebagai telenovela termenarik tahun ini. Kay sedang sibuk memutar otak, “Sorry, bercanda lo kurang lucu!” ujar Kay cool. Finally, Kaysha mengeluarkan kata-kata “lo” dalam sejarah hidupnya. Horray! Congrats, Kay! Kaysha lekas meninggalkan Acel yang masih melongo dimotor ninjanya yang siap untuk melompat-lompat dijalan raya.


bersambung...

Saturday, September 25, 2010

180 Degree - 180 Derajat

English version ---


Part 1


Claudy make a sweetest smile ever this morning. She began to apply blush-on around her cheeks, then slowly put on lip gloss. Claudy smile again, but now with her dimples, she's so perfect. After she combed her hair, she left the room that is coated with a wallpaper of stars and blue knacks, it's an amazing room. She descended the stairs slowly, like a princess. Arriving at the last step, Claudy immediately walked with graceful to the dining room. Her hair waving in the breeze. Clariss shouts calling her older sister, "Claudy!" Clariss is Claudy's little sister, although they often fight over small issues, but the bond will always be there. Actually there are three people, but their brother, Clarence has been occupying the third semester in college and already a few months moving to Australia for study. "Claudy, I know you're already there, come on! Hurry, I'll be late!" Clariss screamed shrilly. "Yeah, chatty! Just wait for a moment!" said Claudy in hurry. Actually, I'm the main character in this story. I'm the ash among the most wanted, yes, I'm Clariss Dirga Widjaya the normal course, not popular, simple. I have been so patience with my older sister who labeled the most wanted it, they both are equally complicated. "How can I be patience like that? Do you know where we gonna go? We just wanna go to school! Is the make-up really important? If we late, I hope that you have a reason for it!" Clariss really mad at her older sister. "Aren't you proud of me?" said Claudy narcissistic. Clariss not answered. It's better I don't answer! said Clariss in heart. The breakfast ended with a cold situation, Clariss's father could only babble to himself saw his two daughters, and mother could only smile, while Clariss and Claudy left the breakfast with faces like a rotten. Clariss Dirga Widjaja Widjaya and Claudy Laurence Widjaya boarded a private car with their driver, they look so annoyed. Amid travel, Claudy phone ringing that mark there's incoming message. After fiddling with her phone and read the message, suddenly Claudy smile without wind or rain. What happen with her? Just read the message then smile is so happy, what possessed? Inner Clariss said. "Why you suddenly grinning? Is that from Virgo, your fucking boyfriend? Or from the basketball team Dirga, Or there's a new, huh?" said Clariss curiously. "Dirga, I've kicked him from my side!" Claudy is a real player. "Uh, just relaxed, bitch!" said Clariss cold. Finally, the last sentence Clariss end of their conversation in the car. At Rozens School, the school both of them, Claudy out of the car with elegant style until the time seemed to stop.


to be continued...




Indonesian version ---


Part 1


Claudy memancarkan senyuman termanisnya didepan kaca hingga lesung pipitnya terlihat dan menambahkan derajat manisnya. Ia mulai mengoleskan blush-on disekitar pipinya yang halus dan lembut, lalu memakaikan lip-gloss perlahan. Claudy kembali mengembangkan lesung pipitnya didepan kaca. Sambil menyibakkan rambutnya, Ia meninggalkan ruangan yang dilapisi dengan wallpaper bintang-bintang dan berpernak-pernik serba biru, yang ukurannya seluas kamar utama sebuah rumah. Ia menuruni anak-anak tangga dengan perlahan bak seorang putri. Sesampainya di anak tangga terakhir, Claudy segera berjalan dengan anggunnya menuju ruang makan. Claudy menyibakkan rambutnya yang berkibar terkena angin sepoi-sepoi. Semasih Claudy menebarkan pesonanya, suara teriakan cempreng Clariss terdengar memanggilnya, “Claudy!” teriakan Clariss langsung menghentikan tiara-tiara yang berkilauan saat Claudy sedang menebarkan pesonanya. Clariss adik dari Claudy, walaupun mereka sering bertengkar karena masalah kecil, namun ikatan batin akan selalu ada. Sebenarnya mereka adalah tiga bersaudara, Kakak Claudy, Clarence sudah menempati bangku kuliah semester tiga dan sudah beberapa bulan terakhir pindah ke Ausie demi menuntut ilmu. “Claudy! Gw tau lu udah turun! Buruan, ah! Nanti telat!” jerit Clariss cempreng. “Iya, sih! Sabar aja!” timpal Claudy. Sebenarnya, tokoh utama dalam cerita ini aku! Aku si upik abu diantara saudara-saudaraku yang the most wanted, ya, aku si Clariss Dirga Widjaya yang biasa saja, tidak popular, simple, gak jelas, dan lain-lain. Aku selama ini bersabar menghadapi tingkah-tingkah dua saudaraku yang dicap the most wanted itu, mereka berdua sama-sama ribet. “Sabar, sabar, sabar gimana?! Lu lama tau! Mau sekolah aja pake make-up segala! Kaya penting banget aja!” Clariss benar-benar menyembur habis saudaranya itu. “Ih! Emang lu gak bangga punya saudara the most wanted kaya gw gini?” balas Claudy sok narsis. Clariss tidak menjawab. Memang lebih baik aku gak jawab, cape! Batin Clariss tabah. Sarapan diakhiri dengan dingin, Papa Clariss hanya bisa mengoceh sendiri melihat kedua anak perempuannya, dan Mamanya hanya bisa tersenyum tipis, sedangkan Clariss dan Claudy meninggalkan acara sarapan dengan tampang beluek mirip duren busuk jatoh baru dibelah. Clariss Dirga Widjaya dan Claudy Laurence Widjaya menaiki mobil bersama supir pribadi dengan tampang suntuk abis. Ditengah perjalanan, handphone Claudy berdering tertanda ada sms masuk. Setelah mengutak-atik hp-nya dan membaca pesan itu, Claudy langsung tersenyum tanpa angin dan tanpa hujan. Nih anak kenapa? Cuma baca sms aja senyum mengembang begitu, kerasukan apa? Batin Clariss berkata. “Kenapa lu? Tiba-tiba cengar-cengir begitu? Sms dari Virgo, pacar beluek lu itu? Atau dari Dirga si anak basket gak penting itu? Atau… Ada yang baru, yah?” celetuk Clariss ingin tahu. “Ih, sotoy! Dirga mah udah gw tendang jauh-jauh! Sorry, deh, ya!” samber Claudy nyolot. “Eh, ya udah, santai aja kali!” jawab Clariss dingin. Akhirnya kalimat terakhir Clariss mengakhiri pembicaraan mereka di mobil itu. Sesampainnya di Rozens School, sekolah mereka berdua, sang putri Claudy turun dari mobil dengan anggunnya sampai waktu serasa berhenti.


bersambung..




N.B: wait for the next series!