Sunday, January 23, 2011

I Can!

Kay, would you like to dance with me?” ucap Sora lembut. “Yes. I would!” jawab Kay mantap. Musik mengalun indah mengiringi mereka berdua. Terputar lagu Sanctuary by Utada Hikaru. “Gubrak!” suara kencang seperti duren rontok itu sangat mengganggu mimpi indah Kaysha Jessica Aresthea. “Aduh!” jerit Kaysha mengaduh. Kaysha mengangkat kepalanya dan melihat sesosok laki-laki bertubuh tinggi, masih muda, memakai seragam sekolah SMA rapih, rambut spike yang acak-acakan, dan mata yang tajam dan nakal. “Heh! Ngapain kamu disini! Enak aja masuk ke kamar orang sembarangan! Ketok dulu dong!” bentak Kaysha tak tahan melihat Lukas yang masuk kedalam kamarnya seenak jidat. Dalam posisi masih terselungkup diantara selimut yang menibannya, Kay mencoba meraba-raba handphone-nya. Dia terkejut setengah mati saat melihat jam menunjukan pukul enam pagi. “Aduh, bodoh! Kenapa kamu baru bangunin aku jam segini! Kita ‘kan bisa telat!” omel Kay pada Lukas. “Salah sendiri! Aku ‘kan dari tadi udah siap-siap. Udah berkali-kali aku ketok pintu masih aja gak dibukain, ya udah, aku masuk aja! Paling-paling, kalo sampai telat, aku akan salahin kamu!” jawab Lukas menjablak. “Udah, ah! Aku mau mandi, keluar sana!” ujar Kaysha geram. Kaysha Jessica Aresthea adalah anak pengusaha terkenal, papa-nya pemegang saham perusahaan Phantom yang memproduksi segala macam games (Playstation, Nintendo DS, Gameboy, dan lain-lain), dan juga merangkap sebagai perusahaan adverstiment. Tidak ada yang tidak mengenal perusahaan Phantom yang sukses mencapai rating ke-9 dalam perusahaan-perusahaan di Jakarta. Lukas Marcel Naristan, alias Lukas, adalah anak dari teman mama-nya Kaysha. Lukas adalah sahabat Kay sejak kecil, Kaysha sudah terbiasa bila Lukas masuk ke kamarnya yang indah penuh dengan poster-poster anime, manga, komik dan games playstation bertebaran yang membuat kamarnya terlihat sangat rapih seperti habis tsunami. Lukas tinggal bersama Kaysha karena orang tua Lukas sangat sibuk dan sering berpergian keluar negeri. Lukas kesepian selalu sendiri di rumah karena orang tuanya jarang sekali pulang, Lukas hanya tinggal bersama dengan pengurus-pengurus rumah yang baik hati. Lukas pernah frustasi dengan keadaan orang tuanya, yang tiba-tiba terdengar akan bercerai. Lukas hampir saja terjerumus dalam dunia narkotika yang dijalani beberapa temannya. Makanya orang tua Kaysha mengajak Lukas tinggal bersama dan menganggapnya anak sama seperti Kaysha. “Acel! Tungguin, dong!” ujar Kaysha. “Udah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Acel kalo lagi disekolah.” Ujar Lukas tegas. Kaysha merutuk dalam hati. Akhirnya Kaysha diam di samping pagar Penabur Ravern School, sekolahnya. Kaysha merapihkan bajunya sebelum dia melaksanakan 3S (Senyum, Sapa, Santun), karena guru-gurunya sering sekali memarahi anak-anak yang tidak memakai seragam dengan rapih. Setelah Kaysha mantap merapihkan bajunya, dia segera melewati petugas 3S dengan santai tanpa ada teriakan dari guru. Kaysha memang anak yang patuh, tidak banyak gaya pada guru, karena dia tidak mau sekali-sekali dihukum oleh guru seperti Acel yang selalu jadi pentolan di kelas. Kaysha itu anak yang cukup pintar, cukup dapat diteladani, ramah, dan lainnya, intinya Kaysha tidak sering melawan guru dan orang tua. Kaysha anak yang penurut, kalem, dan pengkhayal. “Kay! Ya ampun! Aku udah tungguin kamu sejak tadi!” Nariskha sudah berteriak memanggil-manggil Kaysha, padahal baru saja Kaysha sampai di kelas. “Kenapa toh ya kamu cari-cari aku sampe sebegitunya banget? Ada buto ijo kecebur sumur minta pertolongan?” Tanya Kaysha sembari tertawa kecil. “Aduh! Sekarang bukan saatnya kamu ketawa, Kay!” jawab Nariskha panik. “Ya, amplop, emangnya ada apaan sih, Kha?” Tanya Kaysha menebak-nebak apa yang terjadi. “Tapi kamu jangan kaget dulu, ya?” Kaysha menunggu Nariskha melanjutkan kalimatnya. “Jadi, gini, sebenernya tadi Bu Ririn, itu yang guru BK itu loh!” Kaysha bingung, “Ada salah apa aku?” Batin Kaysha. Kaysha sudah deg-degan aja pas dia sampai di depan ruang BK. “Ayo duduk, Kay.” Ucap Bu Riri ramah. “Makasih, Bu.” Kaysha duduk di kursi yang ditunjuk Bu Riri. “Jadi, maksud ibu manggil saya kesini ada apa, ya, Bu?” Tanya Kaysha deg-degan. “Jadi begini, ada lomba Sains yang akan diadakan kira-kira sekitar 4 bulan lagi, lebih tepatnya bulan Desember tanggal 26. Kamu ditunjuk sebagai salah satu wakil dari kelas XI. Ibu hanya ingin memberitahu kamu agar kamu siap-siap dalam lomba tersebut.” Kaysha mematung, dia dipilih sebagai salah satu wakil dari kelas XI, memang Kaysha sudah terbiasa mengikuti lomba-lomba seperti itu. Piala-piala dan penghargaan hampir tidak pernah ada yang dilewatkannya, sampai-sampai piala-piala dirumahnya dilempar ke gudang. “Baik, Bu.” Ujar Kaysha pelan. “Apa ada lagi yang perlu ibu bicarakan sama saya?” Tanya Kaysha. “Hmm, sepertinya hanya itu saja.” Tanya Bu Riri. “Kalau begitu, saya permisi, ya, Bu.” Kaysha undur diri dari hadapan Bu Riri dan pergi menuju kelas XI-A. “Gimana? Ada apa, Kay? Kamu bikin masalah apa? Dihukum gak?” Kaysha dihujani pertanyaan oleh Nariskha, sahabatnya. Masih untung dihujani pertanyaan daripada dihujani hujan local alias air liur. “Aduh, sabar-sabar, dong, nanyanya. Jangan kaya kebakaran jenggot gitu! Kamu ‘kan gak punya jenggot, jadi sabar aja.” ujar Kaysha tenang. “Jadi, tadi tuh aku disuruh ikut lomba lagi.” Kata Kaysha pasrah. “Itu bagus, dong! Kamu jadi makin terkenal dipenjuru sekolah kita!” ujar Nariskha napsu. “Aku gak butuh terkenal, Kha. Yang aku butuh cuma the meaning of my life, what am I living for? Bukan untuk terkenal.” Ujar Kaysha sambil menghembuskan napas. Nariskha membuntuti Kaysha penasaran persis tikus nyari keju, Kaysha masuk kedalam kelas dengan wajah sigung patah hati. “Kenapa kamu, Kay? Kok pasang muka kaya kesemek busuk baru jatoh?” Tanya Acel melirik Kaysha yang memasang wajah ganas panas mengenas persis daging burger baru mateng. Kaysha melirik Acel sinis, “Bawel!” sembur Kaysha. “Jih, aku tanya baik-baik, dijawab kasar.” balas Acel gak kalah sinis. Kaysha melihat Acel dengan penuh tanda tanya, “Apa sih yang dia mau?” batin Kaysha. “Urusan aku.” Balas Kaysha dengan nada menantang. “Hmm.” Acel memasang wajah nakal. “Argh! Dasar Marcha!” seru Kaysha. Acel langsung memalingkan wajahnya. Terlihat wajahnya yang nakal itu memerah. “Tuh kan! Skak mat! Adu bacot sih sama ratu bacot.” Ujar Kaysha dalam hati. “Acel! Eh, Lukas!” ralat Kaysha. “Kalo mau panggil Acel gak apa-apa kok.” Ujar Acel. “Gak mau, ah! Nanti Marcha kira kita ada apa-apa, terus dia gak mau sama kamu.” Sindir Kaysha. “Jessica Aresthea, denger ya! Gw gak suka ucapan lo! Karena gw emang gak suka sama Marcha!” ujar Acel geram. “Masa?” terdengar suara Kaysha sayup-sayup. “Iya! Masih belom puas gw bilangin? Gw gak suka sama Marcha! Gak sama sekali! Pokoknya kalo gw bilang gak suka, ya gak suka!” Acel mengambil napas, menenangkan diri. Kaysha melihat Acel seperti itu jadi merinding sendiri. “Gw itu suka sama lo! Bukan sama Marcha! Puas lo?!” Acel berteriak di lapangan parkir itu, hingga anak-anak yang melintas disekitar sana menjadikan aksi Acel sebagai telenovela termenarik tahun ini. Kay sedang sibuk memutar otak, “Sorry, bercanda lo kurang lucu!” ujar Kay cool. Finally, Kaysha mengeluarkan kata-kata “lo” dalam sejarah hidupnya. Horray! Congrats, Kay! Kaysha lekas meninggalkan Acel yang masih melongo dimotor ninjanya yang siap untuk melompat-lompat dijalan raya.


bersambung...

No comments:

Post a Comment